Mengukur Kinerja Investasi & Behavioral Finance

Pertemuan 13

Benchmark kinerja, Sharpe Ratio, perbandingan kinerja portofolio, bias perilaku investor, dan tips psikologis.

1 Mengukur Kinerja Investasi

Pertanyaan penting setelah berinvestasi: Apakah investasiku berhasil? Untuk menjawabnya, kita butuh benchmark (tolok ukur) dan metrik kinerja.

1.1 Apa Itu Benchmark?

Benchmark adalah standar pembanding untuk menilai apakah kinerja portofolio kita bagus atau buruk.

Jenis Investasi Benchmark yang Tepat
Portofolio saham Indonesia IHSG atau LQ45
Reksadana saham Indeks sektoral terkait
Portofolio campuran Kombinasi IHSG + indeks obligasi
Investasi “aman” Deposito atau BI Rate
CatatanPrinsip

Jika portofoliomu menghasilkan return 15% tapi IHSG naik 25%, berarti kinerjamu sebenarnya di bawah pasar meskipun menghasilkan keuntungan.

2 Sharpe Ratio

Sharpe Ratio mengukur return per unit risiko — berapa return tambahan yang kamu dapatkan untuk setiap unit risiko yang kamu tanggung.

2.1 Rumus

\[\text{Sharpe Ratio} = \frac{R_p - R_f}{\sigma_p}\]

Di mana:

  • \(R_p\) = return portofolio
  • \(R_f\) = risk-free rate (BI Rate / bunga deposito)
  • \(\sigma_p\) = standar deviasi return portofolio (risiko)

2.2 Interpretasi

Sharpe Ratio Interpretasi
< 0 Investasi kalah dari deposito (buruk!)
0 – 0,5 Kurang baik
0,5 – 1,0 Cukup baik
1,0 – 2,0 Baik
> 2,0 Sangat baik

2.3 Contoh Perhitungan

Data Portofolio A Portofolio B
Return tahunan 20% 15%
Standar deviasi 25% 10%
BI Rate 6% 6%
Sharpe Ratio \(\frac{20-6}{25} = 0,56\) \(\frac{15-6}{10} = 0,90\)

Kesimpulan: Meskipun Portofolio A punya return lebih tinggi, Portofolio B lebih baik dalam hal risk-adjusted return. Portofolio B menghasilkan return lebih efisien per unit risiko.

3 Perbandingan Kinerja

3.1 Framework Evaluasi

Bandingkan portofoliomu dengan 3 benchmark:

vs Benchmark Pertanyaan Jika Kalah
vs IHSG Apakah lebih baik dari pasar? Mungkin lebih baik investasi di reksadana indeks
vs Deposito Apakah worth the risk? Risiko tidak terbayar, deposito lebih baik
vs Inflasi Apakah kekayaan riil bertambah? Daya beli sebenarnya turun

3.2 Metrik Tambahan

Metrik Rumus Kegunaan
Total return \((P_t - P_0 + \text{Dividen}) / P_0\) Return keseluruhan termasuk dividen
Annualized return \((1 + R_{total})^{1/n} - 1\) Return tahunan rata-rata
Maximum drawdown Penurunan terbesar dari puncak ke lembah Seberapa besar kerugian terburuk

4 Behavioral Finance

Behavioral finance mempelajari bagaimana psikologi dan emosi mempengaruhi keputusan keuangan. Investor sering bertindak tidak rasional — dan memahami bias ini bisa membantu kita menghindarinya.

4.1 Kenapa Investor Sering Salah?

Manusia bukan mesin. Kita dipengaruhi oleh:

  • Emosi (takut, serakah, panik)
  • Bias kognitif (cara otak memproses informasi secara tidak sempurna)
  • Tekanan sosial (ikut-ikutan tren)

5 Bias Umum Investor

5.1 1. FOMO (Fear of Missing Out) 📱

  • Definisi: Takut ketinggalan keuntungan saat melihat orang lain untung
  • Contoh: Beli saham yang sudah naik 100% karena teman-teman posting keuntungan di media sosial
  • Bahaya: Masuk di harga tinggi, keluar dengan kerugian

5.2 2. Loss Aversion (Takut Rugi) 😰

  • Definisi: Rasa sakit kehilangan 2x lebih kuat daripada kesenangan mendapat keuntungan yang sama
  • Contoh: Menahan saham rugi berbulan-bulan (berharap balik modal) tapi buru-buru jual saham untung
  • Bahaya: Portofolio dipenuhi saham-saham “nyangkut” yang terus turun

5.3 3. Herding (Ikut-Ikutan) 🐑

  • Definisi: Mengikuti keputusan mayoritas tanpa analisis sendiri
  • Contoh: “Semua orang beli crypto, aku juga ikut beli” tanpa paham apa itu crypto
  • Bahaya: Saat bubble pecah, semua rugi bersamaan

5.4 4. Overconfidence (Terlalu Percaya Diri) 💪

  • Definisi: Merasa kemampuan analisis kita lebih baik dari kenyataan
  • Contoh: Trading setiap hari karena merasa bisa “membaca pasar”
  • Bahaya: Trading berlebihan → biaya transaksi tinggi → return turun

5.5 5. Anchoring (Jangkar Harga) ⚓

  • Definisi: Terlalu terpaku pada satu angka referensi
  • Contoh: “Saya beli di Rp 5.000, saya tidak akan jual sampai kembali ke Rp 5.000” — padahal fundamental sudah berubah
  • Bahaya: Mengabaikan informasi baru karena terjebak di harga beli

5.6 6. Recency Bias (Bias Terkini) 📰

  • Definisi: Menganggap kejadian terkini akan terus berlanjut
  • Contoh: “Pasar sudah naik 6 bulan berturut-turut, pasti akan terus naik”
  • Bahaya: Tidak siap menghadapi koreksi/penurunan

6 Tips Psikologis Investasi

TipDisiplin Investasi
  1. Buat rencana investasi tertulis — tentukan kapan beli, kapan jual, berapa alokasi
  2. Patuhi rencana — jangan ubah strategi karena emosi sesaat
  3. Diversifikasi — jangan taruh semua uang di satu tempat
  4. Investasi rutin (DCA) — otomatiskan agar tidak terpengaruh emosi
  5. Batasi frekuensi cek portofolio — cek mingguan/bulanan, bukan setiap jam
  6. Jurnal investasi — catat alasan beli/jual untuk evaluasi dan belajar dari kesalahan
  7. Akui kesalahan — cut loss lebih baik daripada berharap tanpa dasar
  8. Hindari media sosial berlebihan — bukan sumber analisis yang reliable

7 Aktivitas Minggu Ini

7.1 Tugas: Evaluasi Kinerja Portofolio Virtual Trading

PentingTugas Individu

Evaluasi kinerja portofolio virtual trading yang sudah dijalankan sejak Minggu 3.

Instruksi:

  1. Screenshot portofolio virtual trading saat ini
  2. Hitung total return portofolio selama periode trading
  3. Bandingkan return portofolio vs IHSG pada periode yang sama
  4. Hitung Sharpe Ratio sederhana: \((R_p - R_f) / \sigma_p\)
  5. Refleksi jujur: keputusan mana yang paling bagus? Mana yang paling disesali?
  6. Identifikasi bias perilaku apa yang kamu alami selama trading

Format: Screenshot portofolio + hitungan tangan + refleksi. Maks 4 halaman.

7.2 Rubrik Penilaian

Aspek Bobot
Kebenaran perhitungan return dan Sharpe 30%
Kualitas benchmark comparison 20%
Kedalaman dan kejujuran refleksi 30%
Identifikasi bias perilaku 20%