Mengenal Produk-Produk Investasi

Manajemen Investasi — Pertemuan 02

EKM 19608 — Perbanas Institute

Agenda Hari Ini

  1. Review & Istilah Baru
  2. Deposito — Aman tapi…
  3. Obligasi — Meminjamkan Uang ke Negara
  4. Saham — Jadi Pemilik Perusahaan
  5. Reksadana — Investasi Gotong Royong
  6. Emas & Properti
  7. Simulasi: Rp 10 Juta di Masing-Masing Produk

Review Minggu Lalu ⏪

  • Menabung ≠ investasi ≠ spekulasi
  • \(FV = PV \times (1 + r)^n\) dan \(FV = P \times \frac{(1+r)^n - 1}{r}\)
  • Inflasi menggerus daya beli → butuh investasi
  • Profil risiko: konservatif / moderat / agresif

Hari ini: kita kenali produk-produknya — dan hitung return masing-masing.

Istilah Baru (1) 🧩

Istilah Arti
Kupon Bunga yang dibayar obligasi secara berkala
NAB/Unit Nilai Aktiva Bersih per unit reksadana (harga 1 unit)
Capital Gain Keuntungan dari selisih harga jual − harga beli
Dividen Bagian laba perusahaan yang dibagikan ke pemegang saham
Dividend Yield Dividen ÷ harga saham (dalam %)

Istilah Baru (2) 🧩

Istilah Arti
Lot Satuan jual-beli saham di BEI = 100 lembar
Likuiditas Seberapa mudah & cepat aset bisa dicairkan jadi uang
Pasar Sekunder Tempat jual-beli surat berharga antar investor setelah penawaran perdana
Spread Selisih antara harga jual dan harga beli suatu aset (biaya tersembunyi)
Fee Transaksi Biaya yang dikenakan broker/platform setiap kali kamu bertransaksi

1. Deposito 🏦

Simpanan di bank dengan bunga tetap & jangka waktu tertentu.

Aspek Detail
Return 3–5% per tahun
Risiko Sangat rendah (dijamin LPS s.d. Rp 2 M)
Likuiditas Rendah — penalti jika dicairkan dini
Pajak bunga 20%

Aman dan pasti — tapi apakah cukup? Mari hitung.

Hitung: Return Deposito Setelah Pajak 🧮

Kasus: Deposito Rp 10 juta, bunga 4,5%/tahun, tenor 12 bulan.

\[\text{Bunga kotor} = 10.000.000 \times 4{,}5\% = \text{Rp 450.000}\]

\[\text{Pajak} = 450.000 \times 20\% = \text{Rp 90.000}\]

\[\text{Bunga bersih} = 450.000 - 90.000 = \textbf{Rp 360.000}\]

\[\text{Return bersih} = \frac{360.000}{10.000.000} = \textbf{3,6\%}\]

Inflasi ~5% → return riil deposito = −1,4% 😬 Deposito cocok untuk parkir dana darurat, bukan untuk mengembangkan kekayaan.

2. Obligasi / Sukuk 📜

Kamu meminjamkan uang ke pemerintah atau perusahaan → mereka bayar bunga (kupon) berkala.

Cara Kerja

  1. 🛒 Beli obligasi (misal Rp 1 juta)
  2. 💰 Terima kupon setiap bulan/semester
  3. 🔄 Jatuh tempo → pokok dikembalikan utuh

Jenis Obligasi di Indonesia

Jenis Penerbit Kupon Pajak Min. Beli
ORI Pemerintah 6,3% 10% Rp 1 jt
SBR Pemerintah 6,4% (floating) 10% Rp 1 jt
SR (Sukuk Ritel) Pemerintah (syariah) 6,4% 10% Rp 1 jt
ST (Sukuk Tabungan) Pemerintah (syariah) 6,5% (floating) 10% Rp 1 jt
Korporasi Perusahaan 7–10% 10% Rp 1 jt+

Obligasi pemerintah = nyaris tanpa risiko gagal bayar — negara yang jamin.

Beli Obligasi: Pasar Primer 🏪

  • Beli langsung dari pemerintah via mitra distribusi
  • Platform: Bibit, Bareksa, BNI, Mandiri, BCA, dll.
  • Harga = 100% (par) → Rp 1 juta per unit
  • ⚠️ Ada fee platform — misal Bibit kenakan ~0,2% untuk pembelian SBN

Pasar primer = masa penawaran resmi dari pemerintah. Di luar masa itu, tidak bisa beli langsung.

Jual Sebelum Jatuh Tempo: Pasar Sekunder

Jenis SBN Bisa Dijual? Alternatif
ORI ✅ Ya Jual via bank/sekuritas
SR (Sukuk Ritel) ✅ Ya Jual via bank/sekuritas
SBR ❌ Tidak Early redemption ke pemerintah (maks 50%)
ST (Sukuk Tabungan) ❌ Tidak Early redemption ke pemerintah (maks 50%)

Cara jual ORI/SR: hubungi bank/sekuritas tempat beli, atau via fitur “jual” di platform. Proses T+2.

⚠️ Harga jual di pasar sekunder bisa di atas atau di bawah 100% — tergantung kondisi suku bunga.

Harga Pasar Sekunder: Terbalik dengan Suku Bunga 📊

Kondisi BI Rate Harga Obligasi Jika Kamu Jual
BI rate turun > 100% (premium) ✅ Untung
BI rate tetap ≈ 100% (par) ➡️ Balik modal
BI rate naik < 100% (diskon) ❌ Rugi

Contoh: beli ORI di 100%, BI rate naik → harga turun ke 97% → jual sekarang = rugi 3%.

Tapi jika tahan sampai jatuh tempo → pokok kembali 100% + tetap terima kupon selama pegang.

Hitung: Kupon Obligasi Bersih 🧮

Kasus: Beli ORI Rp 5 juta, kupon 6,3%/tahun, pajak kupon 10%.

\[\text{Kupon kotor/tahun} = 5.000.000 \times 6{,}3\% = \text{Rp 315.000}\]

\[\text{Pajak} = 315.000 \times 10\% = \text{Rp 31.500}\]

\[\text{Kupon bersih/tahun} = 315.000 - 31.500 = \textbf{Rp 283.500}\]

\[\text{Kupon bersih/bulan} = \frac{283.500}{12} = \textbf{Rp 23.625}\]

Return bersih = 5,67% → sudah di atas inflasi, dan dijamin negara!

Deposito vs ORI — Head to Head 🥊

Deposito ORI
Bunga/kupon 4,5% 6,3%
Pajak 20% 10%
Return bersih 3,6% 5,67%
Jaminan LPS (≤ Rp 2 M) Negara RI
Fee beli 0% ~0,2% (via platform)
Pencairan dini Penalti bunga Pasar sekunder (harga bisa < 100%)

Butuh pasti bisa cair kapan saja? → SBR lebih cocok: kupon floating + early redemption tanpa rugi pokok.

3. Saham 📈

Membeli saham = menjadi pemilik sebagian perusahaan.

Keuntungan

  • 💰 Capital gain — harga naik
  • 💵 Dividen — bagi laba

Rumus Return Saham

\[R = \frac{(P_1 - P_0) + D}{P_0}\]

Risiko

  • 📉 Capital loss — harga turun
  • 🎢 Volatilitas — naik-turun tajam
  • 🏚️ Kebangkrutan (langka untuk blue chip)

Hitung: Return Saham (dengan Fee Broker) 🧮

Kasus: Beli 1 lot (100 lembar) BBRI di Rp 4.500, terima dividen Rp 250/lembar, jual di Rp 5.200.

Komponen Perhitungan Nilai
Modal beli 4.500 × 100 Rp 450.000
Fee beli (0,15%) 0,15% × 450.000 Rp 675
Capital gain (5.200 − 4.500) × 100 Rp 70.000
Dividen 250 × 100 Rp 25.000
Fee jual (0,25%) 0,25% × 520.000 Rp 1.300

Fee jual 0,25% = 0,15% komisi + 0,1% PPh final (pajak wajib tiap penjualan saham)

\[\text{Return bersih} = \frac{70.000 + 25.000 - 675 - 1.300}{450.000} = \textbf{20,7%}\]

Dividend Yield — Passive Income dari Saham 💵

\[\text{Dividend Yield} = \frac{\text{Dividen per lembar}}{\text{Harga saham}} \times 100\%\]

Contoh Saham Dividen Tinggi (2024–2025)

Emiten Dividen/Lembar Harga Yield
BBRI Rp 250 Rp 4.500 5,6%
TLKM Rp 170 Rp 3.000 5,7%
ASII Rp 700 Rp 5.000 14,0%

Beberapa saham bayar dividen lebih tinggi dari bunga deposito — plus potensi capital gain!

Kapan Saham Rugi? 📉

Kasus: Beli 1 lot GOTO di Rp 400 (IPO), tidak ada dividen, harga saat ini Rp 60.

\[\text{Capital loss} = (60 - 400) \times 100 = \textbf{−Rp 34.000}\]

\[\text{Return} = \frac{-34.000}{40.000} = \textbf{−85%}\]

Modal Rp 40.000 → tersisa Rp 6.000. Ini nyata terjadi.

Return tinggi selalu datang dengan risiko tinggi — tidak ada shortcut.

4. Reksadana 🤝

Patungan investasi — dikelola Manajer Investasi profesional.

Kenapa Cocok untuk Pemula?

  • ✅ Mulai dari Rp 10.000
  • Diversifikasi otomatis — dana disebar ke banyak aset
  • ✅ Tidak perlu analisis sendiri
  • ✅ Bisa dicairkan kapan saja

Jenis Reksadana

Jenis Isi Portofolio Risk Return Tipikal Cocok Untuk
Pasar Uang Deposito, SBI 4–5% Dana darurat, < 1 th
Pendapatan Tetap Obligasi ≥80% ⭐⭐ 5–8% 1–3 tahun
Campuran Saham + Obligasi ⭐⭐⭐ 8–12% 3–5 tahun
Saham Saham ≥80% ⭐⭐⭐⭐ 10–20% >5 tahun
Indeks Ikut indeks (LQ45) ⭐⭐⭐⭐ ~IHSG Investasi pasif

Hitung: Return Reksadana via NAB 🧮

\[R = \frac{NAB_{\text{jual}} - NAB_{\text{beli}}}{NAB_{\text{beli}}} \times 100\%\]

Kasus: Beli reksadana saham di NAB Rp 1.200/unit, 6 bulan kemudian NAB Rp 1.380/unit.

\[R = \frac{1.380 - 1.200}{1.200} = \textbf{15%} \text{ (6 bulan)}\]

  • Unit dari Rp 1.000.000 = \(\frac{1.000.000}{1.200} = 833{,}3\) unit
  • Nilai sekarang = \(833{,}3 \times 1.380 = \textbf{Rp 1.150.000}\) → untung Rp 150.000

Biaya Reksadana — Di Mana “Tersembunyi”?

Biaya Tipikal Keterangan
Expense ratio 1–3%/th ✅ Sudah di dalam NAB — tidak dibayar terpisah
Subscription fee (beli) 0–2% Banyak platform sudah 0% (Bibit, Bareksa)
Redemption fee (cairkan) 0–2% Sering 0% jika pegang > 1 tahun

Return dari perubahan NAB sudah bersih dari expense ratio.

Yang perlu dicek: apakah platform kenakan subscription/redemption fee?

DCA: Strategi Rutin Tanpa Pusing ⏰

Dollar Cost Averaging = setor jumlah tetap secara rutin, berapapun harganya.

Bulan NAB/Unit Setor Unit Dibeli
1 1.000 500.000 500,0
2 900 500.000 555,6
3 1.100 500.000 454,5
4 950 500.000 526,3
Total 2.000.000 2.036,4

Rata-rata harga beli = \(\frac{2.000.000}{2.036{,}4}\) = Rp 982/unit

Jika NAB bulan ke-5 = 1.100 → nilai = \(2.036{,}4 \times 1.100\) = Rp 2.240.000

DCA menghilangkan stres timing pasar — konsistensi > prediksi.

5. Emas 🪙

  • Safe haven — cenderung naik saat krisis
  • Beli fisik (Antam) atau digital (Tokopedia, Pegadaian, Pluang)
  • Return jangka panjang: ~8–12%/tahun (historis)
  • ❌ Tidak ada passive income (kupon/dividen)

⚠️ Spread: Harga Beli ≠ Harga Jual!

Harga (per gram)
Harga beli (dari Antam) Rp 1.500.000
Harga buyback (jual ke Antam) Rp 1.452.000
Spread Rp 48.000 (3,2%)

Beli hari ini, jual hari ini → langsung rugi 3,2%. Emas baru untung jika harga naik melebihi spread.

Hitung: Return Emas yang Realistis 🧮

Harga beli 2015: Rp 500.000/gram → harga buyback 2025: Rp 1.452.000/gram

\[R_{\text{10 tahun}} = \frac{1.452.000 - 500.000}{500.000} = \textbf{190,4%}\]

\[R_{\text{tahunan}} \approx (1 + 1{,}904)^{1/10} - 1 \approx \textbf{11,2%/tahun}\]

Platform Spread Tipikal Catatan
Antam (fisik) 3–5% + ongkos cetak sertifikat & kirim
Pegadaian 2–3% Bisa titip atau ambil fisik
Tokopedia Emas 1–2% Emas digital (disimpan di vault)
Pluang 1–2% Harga ikut pasar global

6. Properti 🏠

  • Return dari kenaikan harga + pendapatan sewa
  • Modal besar (puluhan–ratusan juta) — tidak likuid
  • Butuh manajemen aktif — bukan investasi pasif

Hitung Yield Sewa

Beli kos-kosan Rp 500 juta, sewa per bulan Rp 3 juta.

\[\text{Rental Yield} = \frac{3.000.000 \times 12}{500.000.000} = \textbf{7,2%/tahun (kotor)}\]

Biaya Tersembunyi Properti 🏚️

Biaya Tipikal
BPHTB (pajak pembeli) 5% dari harga − NPTKP
PPh penjual 2,5% dari harga jual
Notaris & AJB 1–2% dari harga
Perawatan/tahun 1–3% dari nilai properti
Kekosongan (vacancy) 1–2 bulan/tahun tanpa penyewa

Yield kotor 7,2% → bisa jadi bersih ~4–5% setelah semua biaya.

Simulasi: Rp 10 Juta, 5 Tahun ⚔️

Menggunakan \(FV = PV \times (1 + r)^n\):

Instrumen Return Bersih/th FV (5 tahun) Untung
Tabungan 1,2% Rp 10.614.000 Rp 614 rb
Deposito 3,6% Rp 11.935.000 Rp 1,9 jt
ORI 5,7% Rp 13.191.000 Rp 3,2 jt
Reksadana campuran 9% Rp 15.386.000 Rp 5,4 jt
Saham (historis) 13% Rp 18.424.000 Rp 8,4 jt

Selisih tabungan vs saham: Rp 7,8 juta — dari modal yang sama persis! Return saham di atas adalah rata-rata historis — bukan jaminan.

Peta Risk-Return Semua Produk 🗺️

Risiko ← Rendah … Tinggi →
Return Tinggi Saham, RD Saham
Return Sedang Emas, RD Campuran, Properti
Return Rendah Obligasi, RD Pendapatan Tetap
Return Minimal Deposito, Tabungan, RD Pasar Uang

🔑 High risk, high return — tidak ada investasi yang untung besar tanpa risiko.

🔑 Diversifikasi — jangan taruh semua uang di satu instrumen.

Produk Mana untuk Siapa?

Profil Alokasi yang Masuk Akal
🟢 Konservatif 60% deposito/obligasi, 30% RD pendapatan tetap, 10% emas
🟡 Moderat 30% obligasi, 40% RD campuran, 20% saham, 10% emas
🔴 Agresif 10% obligasi, 20% RD saham, 60% saham, 10% emas

Ini pedoman umum — alokasi ideal tergantung tujuan, horizon, dan kondisi masing-masing.

Tugas Minggu Ini 📝

Tugas Perhitungan: Perbandingan Produk Investasi

  1. Pilih 3 produk investasi yang paling menarik buatmu
  2. Tentukan modal awal dan horizon waktu
  3. Cari data return terkini (bunga deposito, kupon ORI/SBR, NAB reksadana, harga emas)
  4. Hitung FV: lump sum \(FV = PV \times (1+r)^n\) atau DCA \(FV = P \times \frac{(1+r)^n - 1}{r}\)
  5. Buat tabel perbandingan: return bersih, risiko, likuiditas
  6. Kesimpulan: produk mana yang paling cocok dan kenapa?

Sertakan sumber data (link website bank, ORI, platform reksadana, dll.).

Takeaway 🎯

  1. Setiap produk punya trade-off risk-return — tidak ada yang sempurna
  2. Hitung dulu sebelum memutuskan — jangan hanya ikut rekomendasi
  3. Deposito aman tapi kalah inflasi — obligasi lebih baik untuk dana menganggur
  4. Saham = return tertinggi, tapi butuh kesabaran & pengetahuan
  5. Reksadana = pintu masuk termudah untuk pemula

Minggu depan: Pasar Modal Indonesia — Bagaimana cara beli saham? 🏛️

Appendix 1

Appendix 2

Appendix 3

Appendix 4

Deposito — yang tidak diceritakan brosur
Simulasi deposito Rp100 juta, tenor 12 bulan
Bunga nominal
4.25%
Rata-rata bank besar 2024
Pajak bunga 20%
−0.85%
PPh final, tidak bisa dikreditkan
Inflasi ~3%
−3.00%
Daya beli tergerus
Nominal: Rp100jt × 4.25% = Rp4.250.000
Setelah pajak: Rp4.250.000 × 0.80 = Rp3.400.000
Real return (setelah inflasi): 4.25% × 0.80 − 3% = +0.40%
→ Nyaris nol. Deposito = penyimpan nilai, bukan penumbuh kekayaan.
Jebakan 1: Penalty break
Cairkan sebelum jatuh tempo? Bunga hangus atau dipotong 50%. Likuiditas ≠ seperti tabungan.
Jebakan 2: LPS ceiling
Dijamin hanya sampai Rp2 miliar per bank per nasabah. Di atas itu? Risiko penuh di tangan Anda.
Jebakan 3: Opportunity cost
Uang terkunci 6-12 bulan. Kalau ada peluang investasi lebih baik muncul, Anda tidak bisa pindah tanpa penalti.
Obligasi — bukan sekadar "meminjamkan uang"
Dua realitas berbeda: hold vs trade
Kupon SBN Ritel
6.4%
ORI/SR series 2024
Pajak kupon 10%
−0.64%
PPh final atas kupon
Harga bisa turun
~5-8%
Jika yield naik 100bps
Yield turun 1%
Harga +7%
Yield tetap
Harga ±0
Yield naik 1%
Harga −7%
Jebakan 1: Capital loss di secondary market
SBN Ritel bisa dijual sebelum jatuh tempo, tapi di harga pasar. Kalau BI Rate naik setelah Anda beli, harga obligasi Anda turun — capital loss bisa lebih besar dari kupon yang sudah diterima.
Jebakan 2: Durasi = sensitivitas
Obligasi tenor panjang (10-30 tahun) jauh lebih sensitif terhadap perubahan yield. FR seri panjang bisa swing ±15% dalam setahun.
Yang jarang dibahas
Kalau hold to maturity, Anda memang aman dari capital loss. Tapi Anda kehilangan opportunity cost jika yield naik — uang Anda terkunci di kupon lama yang lebih rendah.
Saham — realitas return yang sebenarnya
Bukan cuma "beli murah jual mahal"
IHSG avg return
~11%
CAGR 20 tahun (nominal IDR)
Max drawdown
−60%
Krisis 2008
Biaya tersembunyi
1-3%
Fee + spread + pajak/tahun
Fee beli
0.15-0.25%
Fee jual
0.25-0.35%
Pajak jual (PPh)
0.1%
Pajak dividen
10% final
Bid-ask spread
0.5-2% (saham kecil)
Jebakan 1: Survivorship bias di IHSG
IHSG "selalu naik" karena saham yang bangkrut dikeluarkan dari indeks. Saham individu bisa ke nol — dan banyak yang memang ke nol.
Jebakan 2: Dividend yield trap
Dividen yield tinggi bisa berarti harga sudah jatuh drastis. Perusahaan yang bagi dividen besar tahun ini belum tentu bertahan tahun depan.
Jebakan 3: "Rata-rata turun" (averaging down)
Beli saham turun untuk menurunkan average cost? Ini hanya masuk akal kalau fundamental masih bagus. Kalau fundamental memburuk, Anda menambah uang di kapal yang tenggelam.
Realitas return retail investor
Studi menunjukkan median retail investor underperform indeks 3-5% per tahun karena timing yang salah, overtrading, dan bias perilaku. Return "11% CAGR" itu milik indeks, bukan milik Anda secara otomatis.
Reksadana — biaya yang memakan return
Simulasi: investasi Rp10 juta selama 10 tahun
Return kotor
10%
Asumsi reksadana saham
Expense ratio
2-3%
Rata-rata RD saham Indo
Return bersih
7-8%
Setelah management fee
ER 0.5% (ETF)
Rp24.8 jt
ER 1.5%
Rp22.6 jt
ER 2.5%
Rp20.6 jt
ER 3.5%
Rp18.8 jt
Selisih ER 0.5% vs 3.5% dalam 10 tahun:
Rp24.8jt − Rp18.8jt = Rp6 juta hilang ke fee manager
→ 60% dari modal awal Anda dimakan biaya.
Jebakan 1: "Tidak ada biaya" di platform digital
Aplikasi bilang gratis? Fee subscription dan fee redemption mungkin 0, tapi expense ratio tetap berjalan setiap hari di dalam NAB. Anda tidak melihatnya, tapi Anda membayarnya.
Jebakan 2: Benchmark yang kabur
Banyak RD saham underperform IHSG secara konsisten setelah fee. Tanyakan: apakah return RD ini mengalahkan ETF indeks sederhana?
Jebakan 3: Churning oleh MI
Manager yang terlalu sering trading menaikkan biaya transaksi yang ditanggung NAB (dan Anda). Turnover ratio tinggi = biaya tersembunyi tinggi.
Emas — bukan "selalu naik"
Dan properti bukan "investasi pasti untung"
Return nominal 20th
~8%
Dalam IDR, termasuk depresiasi rupiah
Spread beli-jual
3-5%
Antam, toko emas
Flat period
20 thn
1980-2000 emas stagnan (USD)
Jebakan 1: Spread = break-even lama
Beli emas Antam spread ~3-5%. Artinya harga harus naik 3-5% dulu sebelum Anda balik modal. Untuk emas toko, spread bisa 10%+.
Jebakan 2: Emas tidak menghasilkan cashflow
Tidak ada dividen, tidak ada kupon. Return murni dari capital gain. Selama menunggu, uang Anda tidak bekerja.
Jebakan 3: Storage & asuransi
Emas fisik butuh brankas atau safe deposit box. Biaya Rp300rb-1jt/tahun yang jarang dihitung sebagai pengurang return.
Kenaikan harga
5-8%
Rata-rata tahunan, lokasi premium
Biaya tersembunyi
5-10%
Notaris, BPHTB, PPN, broker
Maintenance
1-3%
Per tahun dari nilai properti
Biaya saat beli properti Rp1 miliar:
BPHTB
Rp25-50 jt
Notaris/AJB
Rp10-15 jt
PPN (jika baru)
Rp110 jt (11%)
KPR interest
Total bunga 1.5-2× harga
Jebakan terbesar: Ilusi "harga selalu naik"
Harga properti nominal naik, tapi setelah dikurangi inflasi, biaya transaksi (5-10% masuk+keluar), maintenance tahunan (1-3%), PBB, dan biaya KPR — real return properti sering hanya 1-3% per tahun. Lebih rendah dari yang orang kira.
Properti vs saham: likuiditas
Menjual rumah butuh 3-12 bulan. Saham bisa dijual dalam detik. Ini "biaya" yang tidak pernah muncul di perhitungan return.