Pertemuan 13: Obligasi & Investasi Pendapatan Tetap
Manajemen Investasi — EKM 19608
1 Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu:
- Menjelaskan karakteristik dan terminologi dasar obligasi.
- Menghitung harga obligasi berdasarkan konsep present value.
- Menjelaskan hubungan terbalik antara harga obligasi dan suku bunga.
- Menghitung dan menginterpretasikan Yield to Maturity (YTM).
- Membedakan jenis-jenis obligasi yang tersedia di Indonesia.
2 Pendahuluan: Mengapa Belajar Obligasi?
Obligasi adalah instrumen investasi terbesar di dunia — pasar obligasi global lebih besar dari pasar saham global. Di Indonesia, pasar Surat Berharga Negara (SBN) menjadi instrumen investasi populer, termasuk melalui produk retail seperti ORI (Obligasi Ritel Indonesia) dan Sukuk.
Bagi investor, obligasi menawarkan: - Pendapatan tetap (kupon) yang dapat diprediksi - Risiko lebih rendah dibanding saham (prioritas klaim lebih tinggi) - Diversifikasi portofolio (korelasi rendah dengan saham)
Sumber: Reilly & Brown (2015), Ch. 18; Kementerian Keuangan RI (2023)
3 Karakteristik Dasar Obligasi
3.1 Terminologi Penting
| Istilah | Definisi |
|---|---|
| Nilai Nominal (Par Value / Face Value) | Nilai pokok obligasi yang dibayar kembali saat jatuh tempo (misal: Rp 1.000.000 atau $1.000) |
| Kupon (Coupon) | Bunga periodik yang dibayar penerbit kepada pemegang obligasi |
| Tingkat Kupon (Coupon Rate) | Persentase kupon terhadap nilai nominal (% per tahun) |
| Jatuh Tempo (Maturity) | Tanggal obligasi dilunasi oleh penerbit |
| Harga Obligasi | Harga pasar obligasi — bisa di atas (premium) atau di bawah (discount) nilai nominal |
| Yield to Maturity (YTM) | Return yang akan diterima jika obligasi dipegang hingga jatuh tempo |
Contoh Obligasi:
Obligasi PT ABC: - Nilai nominal: Rp 1.000.000 - Tingkat kupon: 8% per tahun, dibayar setiap 6 bulan - Jatuh tempo: 5 tahun
Artinya: Investor menerima Rp 40.000 setiap 6 bulan (= 8%/2 × Rp 1.000.000), lalu Rp 1.000.000 saat jatuh tempo.
Sumber: Reilly & Brown (2015), Ch. 18
4 Harga Obligasi
4.1 Konsep Present Value
Harga obligasi adalah present value (PV) dari semua cash flow yang akan diterima — yaitu kupon periodik + nilai nominal saat jatuh tempo.
\[ P = \sum_{t=1}^{n} \frac{C}{(1+r)^t} + \frac{F}{(1+r)^n} \]
di mana:
- \(P\) = harga obligasi
- \(C\) = kupon per periode
- \(F\) = nilai nominal (face value)
- \(r\) = required return per periode (yield / jumlah pembayaran per tahun)
- \(n\) = jumlah periode total
4.2 Contoh Perhitungan
Soal: Obligasi 3 tahun, nilai nominal Rp 1.000.000, tingkat kupon 8%/tahun (dibayar tahunan). Investor mengharapkan return 8% per tahun. Berapa harga obligasi?
\[ P = \frac{80.000}{(1{,}08)^1} + \frac{80.000}{(1{,}08)^2} + \frac{80.000 + 1.000.000}{(1{,}08)^3} \]
\[ = \frac{80.000}{1{,}08} + \frac{80.000}{1{,}1664} + \frac{1.080.000}{1{,}2597} \]
\[ = 74.074 + 68.587 + 857.339 = \text{Rp } 1.000.000 \]
Ketika required return = tingkat kupon, harga obligasi = nilai nominal (par). Ini adalah kondisi “at par” (priced at par).
Sumber: Reilly & Brown (2015), Ch. 18
5 Hubungan Harga dan Yield
5.1 Prinsip Dasar
Hubungan antara harga obligasi dan yield (suku bunga) bersifat terbalik (inverse):
- Ketika suku bunga naik → harga obligasi turun
- Ketika suku bunga turun → harga obligasi naik
Mengapa? Bayangkan Anda memegang obligasi kupon 8%. Lalu suku bunga pasar naik ke 10%. Investor baru bisa mendapat 10% dari obligasi baru. Agar obligasi lama Anda menarik, harganya harus turun sampai yield-nya setara dengan pasar (10%).
| Kondisi | Harga vs. Nominal | Sebutan |
|---|---|---|
| Required return > Coupon rate | Harga < Nominal | Discount |
| Required return = Coupon rate | Harga = Nominal | At Par |
| Required return < Coupon rate | Harga > Nominal | Premium |
Contoh Numerik:
Obligasi sama (nominal Rp 1.000.000, kupon 8%, jatuh tempo 3 tahun):
| Required Return | Harga Obligasi |
|---|---|
| 6% | Rp 1.053.460 (premium) |
| 8% | Rp 1.000.000 (at par) |
| 10% | Rp 950.264 (discount) |
Ini berarti investor yang membeli obligasi dan suku bunga kemudian naik akan mengalami capital loss (harga obligasi turun) jika menjual sebelum jatuh tempo. Inilah yang disebut risiko suku bunga (interest rate risk).
Sumber: Reilly & Brown (2015), Ch. 18
6 Yield to Maturity (YTM)
6.1 Konsep
YTM adalah tingkat diskonto yang membuat present value semua cash flow obligasi sama dengan harga pasarnya. YTM adalah return yang akan diperoleh investor jika membelinya sekarang dan menahannya hingga jatuh tempo.
YTM juga bisa dipandang sebagai “suku bunga implisit pasar” untuk obligasi tersebut.
6.2 Perhitungan YTM
YTM tidak bisa diselesaikan secara langsung — harus dicari dengan trial and error atau kalkulator keuangan.
Contoh:
Obligasi harga Rp 950.000, nominal Rp 1.000.000, kupon 8%/tahun, jatuh tempo 3 tahun.
Kita cari \(r\) yang memenuhi:
\[ 950.000 = \frac{80.000}{(1+r)^1} + \frac{80.000}{(1+r)^2} + \frac{1.080.000}{(1+r)^3} \]
Coba r = 9,7%:
\[ PV = \frac{80.000}{1{,}097} + \frac{80.000}{1{,}2034} + \frac{1.080.000}{1{,}3202} = 72.926 + 66.490 + 818.058 = 957.474 \quad \text{(terlalu tinggi)} \]
Coba r = 10,0%:
\[ PV = \frac{80.000}{1{,}1} + \frac{80.000}{1{,}21} + \frac{1.080.000}{1{,}331} = 72.727 + 66.116 + 811.419 = 950.262 \approx 950.000 \checkmark \]
YTM ≈ 10%
Ketika obligasi dijual di discount (harga < nominal), YTM > coupon rate. Ketika dijual di premium (harga > nominal), YTM < coupon rate. Ini konsisten dengan prinsip hubungan terbalik harga-yield.
Sumber: Reilly & Brown (2015), Ch. 18
7 Jenis Obligasi di Indonesia
7.1 Surat Berharga Negara (SBN)
Pemerintah Indonesia menerbitkan berbagai jenis obligasi melalui Kementerian Keuangan:
| Instrumen | Karakteristik | Target Investor |
|---|---|---|
| SUN (Surat Utang Negara) | Obligasi konvensional, kupon tetap atau variabel, berbagai tenor | Institusional, retail |
| ORI (Obligasi Ritel Indonesia) | SUN khusus investor ritel, kupon tetap, nominal min. Rp 1 juta | Investor ritel individu |
| SBR (Savings Bond Ritel) | Kupon mengambang, tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder | Investor ritel konservatif |
| Sukuk Negara Ritel (SR) | Berbasis prinsip syariah (ijarah), kupon = imbal hasil | Investor syariah ritel |
| PBS (Project-Based Sukuk) | Dana infrastruktur pemerintah, berbasis aset | Institusional |
SBN seperti ORI dan SBR sangat populer karena: (1) bebas risiko gagal bayar (dijamin pemerintah), (2) bunga/kupon dipotong PPh final 10% (lebih ringan dari deposito 20%), (3) bisa dibeli mulai Rp 1 juta melalui bank/aplikasi digital.
7.2 Obligasi Korporasi
Selain pemerintah, perusahaan swasta dan BUMN juga menerbitkan obligasi:
| Aspek | Obligasi Korporasi | Obligasi Pemerintah |
|---|---|---|
| Risiko gagal bayar | Ada (tergantung peringkat) | Sangat rendah |
| Yield | Lebih tinggi (risk premium) | Lebih rendah |
| Peringkat (rating) | AAA hingga D (Pefindo) | AAA |
| Likuiditas | Lebih rendah | Lebih tinggi |
Obligasi korporasi dengan peringkat rendah (high yield / junk bond) menawarkan kupon tinggi tetapi berisiko gagal bayar (default). Selalu perhatikan peringkat dari lembaga rating seperti Pefindo (Indonesia) atau Moody’s/S&P sebelum berinvestasi.
Sumber: Kementerian Keuangan RI (2023); Reilly & Brown (2015), Ch. 18
8 Obligasi dalam Portofolio
8.1 Peran Strategis
Obligasi memiliki peran penting dalam portofolio investasi:
- Pendapatan stabil: Kupon memberikan arus kas yang dapat diprediksi.
- Diversifikasi: Korelasi saham-obligasi sering negatif atau rendah — saat saham jatuh, obligasi cenderung naik (flight to quality).
- Pelindung modal: Obligasi pemerintah jangka pendek berfungsi hampir seperti kas.
8.2 Reksa Dana Pendapatan Tetap
Bagi investor yang tidak ingin membeli obligasi secara individual, reksa dana pendapatan tetap menyediakan akses ke portofolio obligasi yang terdiversifikasi dengan modal kecil (lihat juga Pertemuan 12 tentang reksa dana).
| Instrumen | Keunggulan | Kekurangan |
|---|---|---|
| Obligasi individual | Kontrol penuh, tidak ada management fee | Modal besar, diversifikasi terbatas |
| Reksa Dana Pendapatan Tetap | Terdiversifikasi, modal kecil, dikelola profesional | Kena management fee, tidak ada jatuh tempo pasti |
| ETF Obligasi | Likuid, biaya rendah, transparan | Harga fluktuatif (seperti saham) |
Sumber: Reilly & Brown (2015), Ch. 18, 24
9 Ringkasan
- Obligasi adalah surat utang yang memberikan kupon periodik dan mengembalikan nilai nominal saat jatuh tempo.
- Harga obligasi = PV dari semua cash flow (kupon + nominal), dihitung menggunakan required return sebagai tingkat diskonto.
- Harga dan yield bergerak berlawanan: yield naik → harga turun, yield turun → harga naik. Ini adalah prinsip paling fundamental dalam obligasi.
- YTM adalah tingkat diskonto yang menyamakan PV cash flow dengan harga pasar — ini adalah “return” sesungguhnya jika dipegang hingga jatuh tempo.
- Pasar SBN Indonesia menawarkan berbagai produk retail (ORI, SBR, Sukuk Ritel) yang aman, terjangkau, dan memberikan pendapatan tetap bagi investor individu.
10 Latihan Soal
Soal 1 — Harga Obligasi
Obligasi korporasi: nilai nominal Rp 1.000.000, tingkat kupon 9% per tahun (dibayar tahunan), jatuh tempo 4 tahun. Hitung harga obligasi jika required return: (a) 9%, (b) 7%, (c) 11%. Klasifikasikan apakah at par, premium, atau discount.
Soal 2 — Hubungan Harga-Yield
ORI seri terbaru: nilai nominal Rp 1.000.000, kupon 6,5%/tahun, sisa jatuh tempo 2 tahun. (a) Jika required return pasar naik menjadi 8%, berapa harga obligasi? (b) Jika required return turun menjadi 5%, berapa harga obligasi? (c) Investor membeli di harga nominal dan suku bunga kemudian naik ke 8%. Berapa capital loss yang dialami jika menjual sekarang?
Soal 3 — Yield to Maturity
Obligasi dijual di pasar seharga Rp 920.000. Nilai nominal Rp 1.000.000, kupon 7%/tahun, jatuh tempo 3 tahun. Cari YTM secara trial and error dengan menguji r = 10% dan r = 10,5%. Laporkan nilai PV masing-masing dan simpulkan kisaran YTM.
Soal 4 — Analisis Instrumen SBN
Pemerintah menerbitkan dua instrumen berikut secara bersamaan:
| Instrumen | Tipe | Kupon | Jatuh Tempo | Harga |
|---|---|---|---|---|
| ORI-025 | Konvensional, tetap | 6,9% | 2 tahun | Par |
| SR-020 | Syariah (ijarah) | 6,7% | 3 tahun | Par |
- Untuk investor konservatif yang butuh kepastian pendapatan 2 tahun ke depan, mana yang lebih cocok? (b) Investor Andi memiliki Rp 10 juta untuk diinvestasikan di ORI-025. Berapa kupon yang diterima per tahun? (c) Jika setelah 1 tahun suku bunga pasar turun ke 5,5%, apakah Andi bisa menjual ORI-025 di atas atau di bawah harga beli?
11 Referensi
- Reilly, F. K., & Brown, K. C. (2015). Investment Analysis and Portfolio Management (10th ed.), Chapters 18–19. Cengage Learning.
- Kementerian Keuangan RI. (2023). Surat Berharga Negara Ritel. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko.
- Fabozzi, F. J. (2012). Bond Markets, Analysis, and Strategies (8th ed.), Chapters 1–2. Pearson.