Pertemuan 4: Capital Asset Pricing Model

Manajemen Investasi — EKM 19608

1 Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan asumsi-asumsi yang mendasari CAPM dan implikasinya.
  2. Membedakan Capital Market Line (CML) dan Security Market Line (SML).
  3. Menghitung beta (\(\beta\)) dari data return historis dan menginterpretasikannya.
  4. Menghitung expected return suatu aset menggunakan persamaan SML.
  5. Mengidentifikasi aset yang overvalued dan undervalued berdasarkan CAPM.

2 Pendahuluan: Dari Markowitz ke CAPM

Di Pertemuan 3, kita mempelajari bahwa investor rasional akan memilih portofolio yang berada di efficient frontier. Namun teori Markowitz belum menjawab pertanyaan fundamental: berapa seharusnya expected return suatu aset individual, mengingat risikonya?

Capital Asset Pricing Model (CAPM), dikembangkan secara independen oleh William Sharpe (1964), John Lintner (1965), dan Jan Mossin (1966), menjawab pertanyaan tersebut. CAPM menyatakan bahwa dalam kondisi ekuilibrium pasar, hanya risiko sistematis (systematic risk) yang dihargai oleh pasar — risiko tidak sistematis (unsystematic risk) dapat dieliminasi melalui diversifikasi dan karenanya tidak mendapat kompensasi.

CatatanSignifikansi CAPM

CAPM adalah salah satu model paling berpengaruh dalam keuangan modern. Meskipun asumsinya sangat ketat dan validitas empirisnya terus diperdebatkan, CAPM tetap menjadi benchmark utama dalam praktik — digunakan untuk menghitung cost of equity, mengevaluasi kinerja portofolio, dan menilai kelayakan proyek investasi. William Sharpe menerima Nobel Ekonomi 1990 (bersama Markowitz dan Miller) atas kontribusinya.

Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 4; Avramov (2015), Ch. 3

3 Asumsi CAPM

CAPM dibangun di atas serangkaian asumsi ketat tentang perilaku investor dan kondisi pasar. Meskipun asumsi-asumsi ini tidak realistis secara sempurna, mereka memungkinkan derivasi model yang elegan dan memberikan insight yang berguna.

3.1 Asumsi tentang Investor

  1. Investor bersifat mean-variance optimizer: Keputusan investasi hanya berdasarkan expected return dan variance (seperti framework Markowitz).
  2. Investor memiliki horison satu periode yang sama: Semua investor merencanakan investasi untuk satu periode yang identik.
  3. Investor memiliki ekspektasi homogen (homogeneous expectations): Semua investor memiliki estimasi yang sama untuk expected return, variance, dan covariance semua aset.
  4. Investor bersifat rasional dan risk-averse: Untuk tingkat return yang sama, investor selalu memilih risiko yang lebih rendah.

3.2 Asumsi tentang Pasar

  1. Terdapat aset bebas risiko (risk-free asset): Investor dapat meminjam dan meminjamkan pada risk-free rate (\(R_f\)) yang sama, tanpa batas.
  2. Tidak ada pajak dan biaya transaksi: Semua aset dapat diperdagangkan tanpa friction.
  3. Pasar sempurna (perfect market): Tidak ada investor individual yang cukup besar untuk memengaruhi harga. Semua informasi tersedia secara gratis dan simultan.
  4. Semua aset dapat diperdagangkan dan dapat dibagi: Termasuk human capital — semua aset likuid dan bisa dibeli dalam fraksi berapa pun.
PeringatanKesalahan Umum

Mahasiswa sering mengkritik CAPM karena asumsinya “tidak realistis” — lalu menyimpulkan modelnya “tidak berguna”. Ini pendekatan yang keliru. Dalam sains, model disederhanakan untuk menghasilkan prediksi yang testable. Pertanyaan yang tepat bukanlah “apakah asumsinya realistis?” melainkan “apakah prediksi modelnya cukup akurat untuk berguna?” CAPM, meskipun imperfect, tetap menjadi first approximation yang sangat bermanfaat.

Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 4; Avramov (2015), Ch. 3

4 Capital Market Line (CML)

4.1 Konsep

Ketika aset bebas risiko (risk-free asset) ditambahkan ke dalam analisis Markowitz, investor dapat mengombinasikan aset bebas risiko dengan portofolio berisiko mana pun di efficient frontier. Kombinasi ini menghasilkan garis lurus dalam ruang \(\sigma\)\(E(R)\).

Portofolio berisiko optimal — yang dipilih semua investor karena ekspektasi homogen — adalah portofolio yang menghasilkan garis dengan kemiringan tertinggi (steepest slope) saat ditarik dari \(R_f\) ke efficient frontier. Portofolio ini disebut market portfolio (\(M\)) dan garis tersebut disebut Capital Market Line (CML).

4.2 Formula CML

PentingFormula Kunci — Capital Market Line

\[ E(R_p) = R_f + \left[\frac{E(R_m) - R_f}{\sigma_m}\right] \sigma_p \]

di mana:

  • \(E(R_p)\) = expected return portofolio efisien
  • \(R_f\) = risk-free rate
  • \(E(R_m)\) = expected return portofolio pasar (market portfolio)
  • \(\sigma_m\) = standard deviation portofolio pasar
  • \(\sigma_p\) = standard deviation portofolio

Kemiringan CML, \(\frac{E(R_m) - R_f}{\sigma_m}\), disebut market price of risk atau Sharpe ratio portofolio pasar. Ini menunjukkan berapa unit tambahan expected return yang diperoleh untuk setiap unit tambahan risiko total (\(\sigma\)).

4.3 Contoh Perhitungan CML

Diketahui:

  • \(R_f = 5\%\)
  • \(E(R_m) = 12\%\)
  • \(\sigma_m = 16\%\)

Kemiringan CML (market price of risk):

\[ \text{Slope} = \frac{E(R_m) - R_f}{\sigma_m} = \frac{12\% - 5\%}{16\%} = \frac{7\%}{16\%} = 0{,}4375 \]

Interpretasi: Setiap 1% tambahan risiko (\(\sigma\)), investor mendapatkan kompensasi 0,4375% tambahan expected return.

Jika seorang investor ingin portofolio dengan \(\sigma_p = 10\%\):

\[ E(R_p) = 5\% + 0{,}4375 \times 10\% = 5\% + 4{,}375\% = 9{,}375\% \]

Jika investor ingin portofolio dengan \(\sigma_p = 24\%\) (lebih berisiko dari pasar → menggunakan leverage):

\[ E(R_p) = 5\% + 0{,}4375 \times 24\% = 5\% + 10{,}5\% = 15{,}5\% \]

TipInsight Praktis — Lending vs. Borrowing
  • Portofolio dengan \(\sigma_p < \sigma_m\): Investor “meminjamkan” (lending) — menaruh sebagian dana di aset bebas risiko dan sisanya di portofolio pasar.
  • Portofolio dengan \(\sigma_p > \sigma_m\): Investor “meminjam” (borrowing) — meminjam dana pada \(R_f\) dan menginvestasikan lebih dari 100% kekayaan di portofolio pasar (leverage).

Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 4

5 Beta (\(\beta\)): Ukuran Risiko Sistematis

5.1 Konsep

Karena risiko tidak sistematis dapat dieliminasi melalui diversifikasi, hanya risiko sistematis yang relevan bagi investor yang memegang portofolio terdiversifikasi. CAPM mengukur risiko sistematis suatu aset menggunakan beta (\(\beta\)).

CatatanDefinisi Beta

Beta (\(\beta\)) mengukur sensitivitas return suatu aset terhadap return pasar. Secara formal:

\[ \beta_i = \frac{\text{Cov}(R_i, R_m)}{\text{Var}(R_m)} = \frac{\text{Cov}(R_i, R_m)}{\sigma_m^2} \]

atau equivalen:

\[ \beta_i = \rho_{i,m} \cdot \frac{\sigma_i}{\sigma_m} \]

5.2 Interpretasi Beta

Nilai Beta Interpretasi Contoh
\(\beta = 1{,}0\) Return aset bergerak seiring pasar Index fund
\(\beta > 1{,}0\) Aset lebih volatile dari pasar (aggressive) Saham teknologi, small-cap
\(0 < \beta < 1{,}0\) Aset kurang volatile dari pasar (defensive) Saham utilitas, consumer staples
\(\beta = 0\) Return tidak terkait pasar Aset bebas risiko (secara teori)
\(\beta < 0\) Return bergerak berlawanan pasar Sangat jarang; emas kadang mendekati

Contoh interpretasi: Jika \(\beta_{\text{BBCA}} = 1{,}2\), artinya ketika IHSG naik 10%, return BBCA diharapkan naik 12% (= \(1{,}2 \times 10\%\)). Sebaliknya, jika IHSG turun 10%, BBCA diharapkan turun 12%.

5.3 Contoh Perhitungan Beta dari Data Historis

Berikut data return bulanan selama 6 bulan untuk Saham A dan Indeks Pasar:

Bulan Return Saham A (\(R_i\)) Return Pasar (\(R_m\))
1 6% 4%
2 −3% −2%
3 8% 5%
4 −1% 1%
5 10% 6%
6 4% 2%

Langkah 1: Hitung rata-rata return.

\[ \bar{R}_i = \frac{6 + (-3) + 8 + (-1) + 10 + 4}{6} = \frac{24}{6} = 4\% \]

\[ \bar{R}_m = \frac{4 + (-2) + 5 + 1 + 6 + 2}{6} = \frac{16}{6} = 2{,}667\% \]

Langkah 2: Hitung deviasi dan produk deviasi.

Bulan \(R_i - \bar{R}_i\) \(R_m - \bar{R}_m\) \((R_i-\bar{R}_i)(R_m-\bar{R}_m)\) \((R_m-\bar{R}_m)^2\)
1 \(2{,}000\) \(1{,}333\) \(2{,}667\) \(1{,}778\)
2 \(-7{,}000\) \(-4{,}667\) \(32{,}667\) \(21{,}778\)
3 \(4{,}000\) \(2{,}333\) \(9{,}333\) \(5{,}444\)
4 \(-5{,}000\) \(-1{,}667\) \(8{,}333\) \(2{,}778\)
5 \(6{,}000\) \(3{,}333\) \(20{,}000\) \(11{,}111\)
6 \(0{,}000\) \(-0{,}667\) \(0{,}000\) \(0{,}444\)
Jumlah 73{,}000 43{,}333

Langkah 3: Hitung covariance dan variance.

\[ \text{Cov}(R_i, R_m) = \frac{73{,}000}{6 - 1} = \frac{73{,}000}{5} = 14{,}600 \]

\[ \text{Var}(R_m) = \frac{43{,}333}{5} = 8{,}667 \]

Langkah 4: Hitung beta.

\[ \beta_i = \frac{\text{Cov}(R_i, R_m)}{\text{Var}(R_m)} = \frac{14{,}600}{8{,}667} = 1{,}685 \]

TipInterpretasi

Beta sebesar 1,685 menunjukkan bahwa Saham A bersifat aggressive — ia 68,5% lebih volatile daripada pasar. Ketika pasar naik 1%, Saham A diharapkan naik sekitar 1,685%. Saham dengan beta tinggi seperti ini cocok untuk investor dengan toleransi risiko tinggi yang mengekspektasikan pasar bullish.

PeringatanKesalahan Umum

Beta yang dihitung dari data historis bukan jaminan beta di masa depan. Beta bisa berubah seiring perubahan bisnis model perusahaan, leverage keuangan, dan kondisi pasar. Oleh karena itu beta perlu diperbarui secara berkala menggunakan data yang lebih baru.

Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 4; Avramov (2015), Ch. 3

6 Security Market Line (SML)

6.1 Konsep

Security Market Line (SML) adalah inti dari CAPM. SML mendefinisikan hubungan linear antara expected return suatu aset dan beta-nya (risiko sistematis). Berbeda dengan CML yang hanya berlaku untuk portofolio efisien, SML berlaku untuk semua aset dan portofolio — efisien maupun tidak.

6.2 Formula SML

PentingFormula Kunci — Security Market Line (CAPM)

\[ E(R_i) = R_f + \beta_i \left[E(R_m) - R_f\right] \]

di mana:

  • \(E(R_i)\) = expected return aset ke-\(i\) (dalam ekuilibrium)
  • \(R_f\) = risk-free rate
  • \(\beta_i\) = beta aset ke-\(i\)
  • \(E(R_m) - R_f\) = market risk premium (MRP)

6.3 Contoh Perhitungan Expected Return via SML

Diketahui:

  • \(R_f = 5\%\)
  • \(E(R_m) = 12\%\) → Market Risk Premium = \(12\% - 5\% = 7\%\)

Hitung expected return untuk tiga saham:

Saham \(\beta\) Perhitungan \(E(R_i)\)
X 0,8 \(5\% + 0{,}8 \times 7\%\) \(10{,}6\%\)
Y 1,0 \(5\% + 1{,}0 \times 7\%\) \(12{,}0\%\)
Z 1,5 \(5\% + 1{,}5 \times 7\%\) \(15{,}5\%\)

Verifikasi:

  • Saham Y (\(\beta = 1\)): expected return = return pasar ✓
  • Saham X (\(\beta < 1\)): expected return < return pasar ✓
  • Saham Z (\(\beta > 1\)): expected return > return pasar ✓

Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 4; Avramov (2015), Ch. 3–4

7 CML vs. SML: Perbedaan Penting

PeringatanKesalahan Umum

Jangan samakan CML dengan SML! Ini adalah dua konsep yang berbeda.

Aspek CML SML
Ukuran risiko Total risk (\(\sigma\)) Systematic risk (\(\beta\))
Berlaku untuk Hanya portofolio efisien Semua aset dan portofolio
Sumbu horizontal \(\sigma_p\) \(\beta_i\)
Persamaan \(E(R_p) = R_f + \frac{E(R_m)-R_f}{\sigma_m}\sigma_p\) \(E(R_i) = R_f + \beta_i[E(R_m)-R_f]\)
Interpretasi kemiringan Market price of risk (per unit \(\sigma\)) Market risk premium (MRP)
Kegunaan utama Menentukan alokasi antara \(R_f\) dan portofolio pasar Menentukan required return dan menilai mispricing

8 Menilai Mispricing: Alpha (\(\alpha\))

8.1 Konsep

Salah satu aplikasi terpenting CAPM adalah mengidentifikasi aset yang mispriced — yaitu aset yang return-nya tidak sesuai dengan apa yang diprediksi oleh SML.

CatatanDefinisi Alpha (Jensen’s Alpha)

\[ \alpha_i = E(R_i)_{\text{actual}} - E(R_i)_{\text{CAPM}} \]

  • \(\alpha > 0\): Aset memberikan return lebih tinggi dari yang diprediksi CAPM → undervaluedBeli
  • \(\alpha < 0\): Aset memberikan return lebih rendah dari yang diprediksi CAPM → overvaluedJual
  • \(\alpha = 0\): Aset dihargai secara tepat (fairly priced) → berada di SML

8.2 Contoh Perhitungan Alpha

Seorang analis mengestimasi expected return tiga saham berdasarkan analisis fundamental. Bandingkan dengan prediksi CAPM (\(R_f = 5\%\), \(E(R_m) = 12\%\)):

Saham \(\beta\) \(E(R)_{\text{CAPM}}\) \(E(R)_{\text{Analis}}\) \(\alpha\) Keputusan
A 0,8 \(5+0{,}8(7)=10{,}6\%\) 13,0% \(+2{,}4\%\) Beli (undervalued)
B 1,2 \(5+1{,}2(7)=13{,}4\%\) 11,0% \(-2{,}4\%\) Jual (overvalued)
C 1,0 \(5+1{,}0(7)=12{,}0\%\) 12,0% \(0\%\) Tahan (fairly priced)
TipInterpretasi
  • Saham A berada di atas SML: analis mengekspektasikan return 13% padahal CAPM hanya “menuntut” 10,6% untuk beta 0,8. Ini menunjukkan saham tersebut memberikan kompensasi berlebih — layak dibeli.
  • Saham B berada di bawah SML: return yang diharapkan (11%) tidak cukup mengompensasi risiko beta 1,2 — layak dijual.
  • Saham C tepat di SML: fairly priced.

Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 4; Avramov (2015), Ch. 4

9 Beta Portofolio

Beta portofolio adalah rata-rata tertimbang beta aset-aset pembentuknya:

\[ \beta_p = \sum_{i=1}^{n} w_i \cdot \beta_i \]

9.1 Contoh Perhitungan

Saham Bobot \(\beta\) \(w_i \times \beta_i\)
BBCA 40% 1,2 0,48
TLKM 30% 0,8 0,24
ASII 30% 1,5 0,45
Portofolio 100% \(\beta_p = 1{,}17\)

Expected return portofolio via CAPM (dengan \(R_f = 5\%\), \(E(R_m) = 12\%\)):

\[ E(R_p) = 5\% + 1{,}17 \times (12\% - 5\%) = 5\% + 8{,}19\% = 13{,}19\% \]

TipInsight Praktis

Manajer portofolio dapat mengatur beta portofolio sesuai pandangannya tentang pasar:

  • Jika yakin pasar akan naik (bullish) → tingkatkan \(\beta_p\) (overweight saham high-beta).
  • Jika khawatir pasar akan turun (bearish) → turunkan \(\beta_p\) (overweight saham low-beta atau tambahkan aset bebas risiko).

Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 4

10 Sharpe Ratio: Mengukur Kinerja Portofolio

CAPM memberikan dasar bagi salah satu ukuran kinerja paling populer — Sharpe Ratio:

\[ S_p = \frac{E(R_p) - R_f}{\sigma_p} \]

Sharpe Ratio mengukur excess return per unit risiko total. Semakin tinggi, semakin baik kinerja portofolio relatif terhadap risiko yang diambil.

10.1 Contoh Perhitungan

Portofolio \(E(R_p)\) \(\sigma_p\) Sharpe Ratio (\(R_f = 5\%\))
A 14% 20% \((14-5)/20 = 0{,}45\)
B 12% 15% \((12-5)/15 = 0{,}47\)
Pasar 12% 16% \((12-5)/16 = 0{,}44\)

Berdasarkan Sharpe Ratio: Portofolio B > A > Pasar — B paling efisien per unit risiko, meskipun return absolutnya lebih rendah dari A.

TipInterpretasi Praktis

Sharpe Ratio pasar (\(\approx 0{,}44\)) menjadi benchmark. Portofolio yang dikelola secara aktif harus memiliki Sharpe Ratio lebih tinggi dari benchmark agar manajemen aktifnya terjustifikasi.

Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 4; Reilly & Brown (2015), Ch. 18

11 Keterbatasan CAPM

Meskipun CAPM sangat berpengaruh dan banyak digunakan, model ini memiliki keterbatasan penting:

  1. Asumsi tidak realistis — pasar sempurna, tidak ada pajak/biaya transaksi, dan semua investor berpikir sama tidak pernah ada di dunia nyata.
  2. Single-period model — dunia nyata bersifat multi-period; ekspektasi berubah terus.
  3. Beta tidak stabil — beta berubah seiring perubahan bisnis dan leverage perusahaan, sehingga prediksi berdasarkan beta historis bisa tidak akurat.
  4. Bukti empiris kurang kuat — Fama & French (1993) menunjukkan bahwa selain beta, variabel lain seperti ukuran perusahaan dan rasio nilai buku/harga juga memengaruhi return secara signifikan.

Keterbatasan-keterbatasan ini memotivasi pengembangan model multifaktor yang akan dibahas di Pertemuan 5. Namun CAPM tetap menjadi baseline yang wajib dipahami sebelum masuk ke model yang lebih kompleks.

Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 4; Avramov (2015), Ch. 4

12 Ringkasan

  1. CAPM menyatakan bahwa expected return suatu aset ditentukan oleh risiko sistematis (\(\beta\)) — bukan total risk (\(\sigma\)).
  2. CML menggambarkan hubungan risk-return untuk portofolio efisien menggunakan total risk; SML berlaku untuk semua aset menggunakan beta.
  3. Beta (\(\beta = \text{Cov}(R_i,R_m)/\sigma_m^2\)) mengukur sensitivitas return aset terhadap return pasar. \(\beta > 1\) = agresif, \(\beta < 1\) = defensif.
  4. Persamaan SML: \(E(R_i) = R_f + \beta_i[E(R_m) - R_f]\) — ini adalah required return yang sepadan dengan risiko sistematis aset.
  5. Alpha (\(\alpha\)) mengukur selisih antara return ekspektasi analis dengan prediksi CAPM; \(\alpha > 0\) menandakan aset undervalued (beli), \(\alpha < 0\) overvalued (jual).
  6. Sharpe Ratio mengukur excess return per unit risiko total — berguna membandingkan kinerja antar portofolio.
  7. CAPM memiliki keterbatasan — asumsi ketat dan beta yang tidak stabil — namun tetap menjadi baseline yang wajib dipahami.

13 Latihan Soal

Soal 1 — Expected Return via SML

Diketahui \(R_f = 4{,}5\%\) dan \(E(R_m) = 11{,}5\%\). Hitung expected return menurut CAPM untuk saham dengan: (a) \(\beta = 0{,}6\), (b) \(\beta = 1{,}0\), (c) \(\beta = 1{,}4\), (d) \(\beta = 2{,}0\). Jelaskan pola yang Anda temukan.

Soal 2 — Perhitungan Beta

Berikut return bulanan Saham B dan Indeks Pasar selama 6 bulan:

Bulan Saham B Indeks Pasar
1 8% 5%
2 −4% −3%
3 12% 7%
4 −2% 0%
5 6% 4%
6 10% 6%

Hitung: (a) \(\bar{R}_B\) dan \(\bar{R}_m\), (b) \(\text{Cov}(R_B, R_m)\), (c) \(\text{Var}(R_m)\), dan (d) \(\beta_B\). Klasifikasikan saham ini sebagai agresif atau defensif.

Soal 3 — Alpha dan Keputusan Investasi

Seorang analis mengestimasi expected return saham-saham berikut (\(R_f = 5\%\), \(E(R_m) = 13\%\)):

Saham \(\beta\) Expected Return (Analis)
P 0,9 14%
Q 1,3 13%
R 1,1 14,5%

Untuk setiap saham: (a) hitung \(E(R)\) menurut CAPM, (b) hitung \(\alpha\), dan (c) tentukan apakah saham tersebut overvalued, undervalued, atau fairly priced.

Soal 4 — Beta Portofolio dan Sharpe Ratio

Seorang manajer mengelola portofolio dengan tiga saham (\(R_f = 5\%\), \(E(R_m) = 12\%\)):

Saham Bobot Beta
BBCA 50% 0,9
TLKM 30% 0,7
ASII 20% 1,3
  1. Hitung beta portofolio. (b) Hitung expected return portofolio menurut CAPM. (c) Jika return aktual portofolio adalah 12,5% dan \(\sigma_p = 16\%\), hitung Sharpe Ratio portofolio. Bandingkan dengan Sharpe Ratio pasar (\(\sigma_m = 18\%\)).

14 Referensi

  • Fabozzi, F. J., & Markowitz, H. M. (2011). The Theory and Practice of Investment Management (2nd ed.), Chapter 4. John Wiley & Sons.
  • Avramov, D. (2015). Investment Management, Chapters 3–4. Hebrew University of Jerusalem.
  • Reilly, F. K., & Brown, K. C. (2015). Investment Analysis and Portfolio Management (10th ed.), Chapter 18. Cengage Learning.
  • Sharpe, W. F. (1964). Capital Asset Prices: A Theory of Market Equilibrium under Conditions of Risk. Journal of Finance, 19(3), 425–442.