Pertemuan 11: Valuasi Saham
Manajemen Investasi — EKM 19608
1 Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu:
- Menjelaskan konsep intrinsic value dan hubungannya dengan keputusan investasi.
- Menghitung nilai saham menggunakan Dividend Discount Model (DDM).
- Menerapkan Free Cash Flow to Equity (FCFE) model untuk valuasi saham.
- Menggunakan pendekatan valuasi relatif (P/E, P/B, EV/EBITDA).
- Membandingkan kelebihan dan keterbatasan setiap metode valuasi.
2 Intrinsic Value dan Keputusan Investasi
2.1 Konsep
Intrinsic value (nilai intrinsik) adalah estimasi nilai “sebenarnya” suatu saham berdasarkan analisis fundamental — terlepas dari harga pasar saat ini.
- Jika Intrinsic Value > Market Price → saham undervalued → Beli
- Jika Intrinsic Value < Market Price → saham overvalued → Jual/Hindari
- Jika Intrinsic Value ≈ Market Price → saham fairly valued → Hold
Margin of Safety (konsep Benjamin Graham): investor sebaiknya hanya membeli jika harga pasar significanly below intrinsic value — sebagai buffer terhadap kesalahan estimasi.
\[ \text{Margin of Safety} = \frac{V_0 - P_0}{V_0} \]
Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 11; Reilly & Brown (2015), Ch. 11
3 Dividend Discount Model (DDM)
3.1 Model Umum
Nilai intrinsik saham = present value dari semua dividen masa depan:
\[ V_0 = \sum_{t=1}^{\infty} \frac{D_t}{(1+k)^t} \]
di mana \(D_t\) = dividen pada periode \(t\), \(k\) = required rate of return (cost of equity).
3.2 Gordon Growth Model (Constant Growth DDM)
Jika dividen tumbuh dengan rate konstan \(g\) selamanya:
\[ V_0 = \frac{D_1}{k - g} = \frac{D_0(1+g)}{k - g} \]
Syarat: \(k > g\) (required return harus lebih besar dari growth rate).
3.3 Contoh Perhitungan DDM — Constant Growth
PT Bank ABC baru saja membayar dividen \(D_0 = \text{Rp 200}\) per saham. Dividen diperkirakan tumbuh 8% per tahun secara permanen. Required return investor: 14%.
Langkah 1: Hitung \(D_1\)
\[ D_1 = D_0(1+g) = 200(1+0{,}08) = \text{Rp 216} \]
Langkah 2: Hitung intrinsic value
\[ V_0 = \frac{216}{0{,}14 - 0{,}08} = \frac{216}{0{,}06} = \text{Rp 3.600} \]
Langkah 3: Keputusan — jika harga pasar Rp 3.200, maka saham undervalued (margin of safety = 11,1%).
Gordon Growth Model sangat sensitif terhadap \(g\) dan \(k\). Perubahan kecil di kedua parameter ini menghasilkan perubahan besar di \(V_0\):
| Skenario | \(g\) | \(k\) | \(V_0\) |
|---|---|---|---|
| Base case | 8% | 14% | Rp 3.600 |
| \(g\) naik 1% | 9% | 14% | Rp 4.360 (+21%) |
| \(k\) turun 1% | 8% | 13% | Rp 4.320 (+20%) |
Perubahan 1% pada \(g\) atau \(k\) mengubah valuasi lebih dari 20%.
3.4 Two-Stage DDM
Untuk perusahaan dengan pertumbuhan tinggi yang diperkirakan melambat:
\[ V_0 = \sum_{t=1}^{n} \frac{D_0(1+g_1)^t}{(1+k)^t} + \frac{V_n}{(1+k)^n} \]
di mana \(V_n = \frac{D_{n+1}}{k - g_2}\) = terminal value pada akhir fase pertumbuhan tinggi.
3.5 Contoh Two-Stage DDM
PT Tech Maju: \(D_0 = \text{Rp 100}\), pertumbuhan 20% selama 3 tahun, lalu melambat ke 6% selamanya. \(k = 15\%\).
| Tahun | Dividen | PV Factor | PV Dividen |
|---|---|---|---|
| 1 | Rp 120 | 0,8696 | Rp 104,35 |
| 2 | Rp 144 | 0,7561 | Rp 108,88 |
| 3 | Rp 172,80 | 0,6575 | Rp 113,62 |
Terminal value pada akhir tahun 3:
\[ V_3 = \frac{D_4}{k - g_2} = \frac{172{,}80 \times 1{,}06}{0{,}15 - 0{,}06} = \frac{183{,}17}{0{,}09} = \text{Rp 2.035,22} \]
PV of terminal value:
\[ \text{PV}(V_3) = \frac{2.035{,}22}{(1{,}15)^3} = \frac{2.035{,}22}{1{,}5209} = \text{Rp 1.338,14} \]
Intrinsic value:
\[ V_0 = 104{,}35 + 108{,}88 + 113{,}62 + 1.338{,}14 = \text{Rp 1.664,99} \]
Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 11
4 Free Cash Flow to Equity (FCFE) Model
4.1 Konsep
FCFE model digunakan ketika perusahaan tidak membayar dividen atau dividen tidak mencerminkan kapasitas pembayaran sesungguhnya.
\[ \text{FCFE} = \text{Net Income} + \text{Depreciation} - \text{CapEx} - \Delta\text{Working Capital} + \text{Net Borrowing} \]
FCFE adalah kas yang tersedia bagi pemegang saham setelah perusahaan memenuhi semua kewajiban operasional dan investasi.
4.2 Valuasi dengan FCFE
\[ V_0 = \sum_{t=1}^{\infty} \frac{\text{FCFE}_t}{(1+k)^t} \]
Dengan asumsi pertumbuhan konstan:
\[ V_0 = \frac{\text{FCFE}_1}{k - g} \]
4.3 Contoh Perhitungan FCFE
PT Manufaktur XYZ (dalam miliar Rp):
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Net Income | 500 |
| Depreciation | 120 |
| Capital Expenditure | 200 |
| ΔWorking Capital | 50 |
| Net Borrowing | 80 |
\[ \text{FCFE} = 500 + 120 - 200 - 50 + 80 = \text{Rp 450 miliar} \]
Jumlah saham beredar: 2 miliar lembar → FCFE per saham = Rp 225.
Jika pertumbuhan FCFE 7% per tahun dan \(k = 13\%\):
\[ V_0 = \frac{225 \times 1{,}07}{0{,}13 - 0{,}07} = \frac{240{,}75}{0{,}06} = \text{Rp 4.012,50} \]
Sumber: Fabozzi & Markowitz (2011), Ch. 11; Reilly & Brown (2015), Ch. 11
5 Valuasi Relatif (Pendekatan Multiples)
5.1 Konsep
Valuasi relatif membandingkan rasio harga saham target dengan saham-saham sejenis (comparable companies) atau rata-rata industri.
5.2 Price-to-Earnings Ratio (P/E)
Dari Gordon Growth Model:
\[ \frac{P_0}{E_1} = \frac{D_1/E_1}{k - g} = \frac{\text{Payout Ratio}}{k - g} \]
P/E dipengaruhi oleh: (1) payout ratio, (2) required return, (3) growth rate.
Trailing P/E = \(P_0 / \text{EPS}_{12 \text{ bulan terakhir}}\)
Forward P/E = \(P_0 / \text{EPS}_{12 \text{ bulan mendatang}}\)
5.3 Contoh Valuasi dengan P/E
Saham PT Retail ABC memiliki EPS = Rp 350 (trailing). Rata-rata P/E industri ritel = 18×.
\[ V_0 = \text{EPS} \times \text{P/E industri} = 350 \times 18 = \text{Rp 6.300} \]
Jika harga pasar Rp 5.800 → saham undervalued sebesar ~8%.
5.4 Price-to-Book Ratio (P/B)
\[ \text{P/B} = \frac{\text{Harga Saham}}{\text{Book Value per Share}} \]
Kegunaan: Cocok untuk perusahaan padat aset (bank, properti, manufaktur). Saham dengan P/B < 1 berarti pasar menilai perusahaan di bawah nilai bukunya.
5.5 Enterprise Value / EBITDA
\[ \text{EV/EBITDA} = \frac{\text{Market Cap} + \text{Debt} - \text{Cash}}{\text{EBITDA}} \]
Kegunaan: Menghilangkan pengaruh struktur modal dan pajak — berguna untuk membandingkan perusahaan dengan leverage berbeda.
5.6 Perbandingan Metode Valuasi Relatif
| Metrik | Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|---|
| P/E | Intuitif, mudah dihitung | Tidak bermakna jika EPS negatif |
| P/B | Stabil, cocok untuk aset-intensive | Kurang relevan untuk perusahaan tech |
| EV/EBITDA | Netral terhadap leverage | Mengabaikan CapEx dan working capital |
| P/S (Price/Sales) | Selalu positif (sales > 0) | Mengabaikan profitabilitas |
5.7 Contoh Komparasi
| Saham | P/E | P/B | EV/EBITDA | Kesimpulan |
|---|---|---|---|---|
| Bank A | 12× | 1,8× | 8× | Fairly valued |
| Bank B | 8× | 1,1× | 6× | Potensi undervalued |
| Bank C | 18× | 2,5× | 12× | Relatif mahal |
| Median industri | 11× | 1,6× | 7,5× |
Bank B terlihat undervalued di semua metrik → kandidat untuk analisis lebih lanjut (pastikan bukan value trap).
Investor profesional umumnya tidak mengandalkan satu metode saja. Praktik terbaik: gunakan multiple valuation methods dan bandingkan hasilnya (triangulation). Jika semua metode menunjukkan saham undervalued, keyakinan (conviction) lebih tinggi.
Sumber: Reilly & Brown (2015), Ch. 11; Smart, Gitman & Joehnk (2017), Ch. 8
6 Ringkasan
- Intrinsic value dibandingkan dengan harga pasar untuk menentukan apakah saham undervalued atau overvalued.
- DDM (Gordon Growth Model) menghitung \(V_0 = D_1/(k-g)\) — sangat sensitif terhadap asumsi \(g\) dan \(k\).
- Two-stage DDM cocok untuk perusahaan yang diperkirakan mengalami pertumbuhan tinggi sementara sebelum stabil.
- FCFE model digunakan saat dividen tidak mencerminkan kapasitas pembayaran sebenarnya; \(V_0 = \text{FCFE}_1 / (k-g)\).
- Valuasi relatif (P/E, P/B, EV/EBITDA) membandingkan saham dengan peers dan rata-rata industri — cepat dan intuitif tetapi mengasumsikan comparables dinilai tepat.
7 Latihan Soal
Soal 1 — Gordon Growth Model
PT Agri Nusantara membayar dividen \(D_0 = \text{Rp 150}\) per saham. Pertumbuhan dividen 10% per tahun. (a) Hitung intrinsic value jika \(k = 16\%\). (b) Jika harga pasar Rp 2.500, apakah saham layak dibeli? Berapa margin of safety? (c) Berapa harga wajar jika \(g\) turun menjadi 7%?
Soal 2 — Two-Stage DDM
PT Digital Indo: \(D_0 = \text{Rp 80}\). Pertumbuhan dividen 25% selama 4 tahun, kemudian 5% selamanya. \(k = 18\%\). Hitung intrinsic value.
Soal 3 — FCFE Valuation
Data PT Infrastruktur Bersama (miliar Rp): Net Income = 800, Depreciation = 250, CapEx = 400, ΔWC = 100, Net Borrowing = 150. Saham beredar: 4 miliar lembar. Pertumbuhan FCFE: 8%, \(k = 14\%\). Hitung FCFE per saham dan intrinsic value.
Soal 4 — Valuasi Relatif
Tiga perusahaan farmasi:
| Saham | EPS | BV/Share | EBITDA (M) | Debt (M) | Cash (M) | Harga | Saham Beredar |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pharma A | Rp 250 | Rp 1.800 | 600 | 400 | 200 | Rp 4.000 | 1 miliar |
| Pharma B | Rp 180 | Rp 1.200 | 350 | 300 | 100 | Rp 2.400 | 1,5 miliar |
| Pharma C | Rp 300 | Rp 2.500 | 800 | 200 | 400 | Rp 6.000 | 0,8 miliar |
Hitung P/E, P/B, dan EV/EBITDA untuk ketiga saham. Saham mana yang paling menarik berdasarkan valuasi relatif?
8 Referensi
- Fabozzi, F. J., & Markowitz, H. M. (2011). The Theory and Practice of Investment Management (2nd ed.), Chapter 11. John Wiley & Sons.
- Reilly, F. K., & Brown, K. C. (2015). Investment Analysis and Portfolio Management (10th ed.), Chapter 11. Cengage Learning.
- Smart, S. B., Gitman, L. J., & Joehnk, M. D. (2017). Fundamentals of Investing (13th ed.), Chapter 8. Pearson.